Layak VS Siap

Suatu malam, sudah cukup larut, aku mendapati sebuah nomer tak dikenal berstatus miscalled dalam layar hpku, dan sebuah sms dari nomer yang sama. Isinya begini “Asswrwb.punten ganggu,ini kiky bukan?”

Hmm…sejujurnya, memang ada 2 hal yang ganggu dari sms itu. Pertama, cara dia menyingkat salam, dan yang kedua cara dia menulis namaku. Namaku KIKI. Ka-I-Ka-I. bukan Ka-I-Ka-Ye.

Tapi sudahlah, kita lupakan itu untuk sementara ini, karna inti kisah ini bukan tentang ejaan salam atau ejaan namaku.

Rupanya si pemilik nomer tak dikenal itu adalah teman lamaku. Bisa dibilang dia adalah pujaan hatiku pada suatu masa yang sudah cukup lama. Masa dimana aku masih mengenakan seragam putih-abu.

Yang membuatku sedikit surprise adalah, beberapa jam sebelumnya aku sempat memikirkan dia beberapa saat. Karena saat itu aku sedang berkumpul dengan teman-teman SMAku yang tidak pernah bertemu hampir satu dasawarsa lamanya. Kami berkumpul dalam sebuah acara reuni, dimana semua kenangan masa lalu diungkit-ungkit sebagai bahan perbincangan. Kami terbahak mengenang kebodohan-kebodohan masa lalu. Kami menggeleng-gelengkan kepala mengingat betapa tidak masuk akalnya kelakuan-kelakuan kami di masa itu.

Dan..berkelebatlah bayangan dirinya dalam ingatanku, saat sahabatku mengatakan “ah..bakal banyak banget godaannya ki!itumah hampir semua orang pasti ngalamin.tiba-tiba para mantan pada minta balikanlah..kenalan baru yang neror dalam rangka pedekate-lah..Pokonya apapun itu, kamu harus teguh!jangan sampe nyesel belakangan. Karena nikah itu sisa hidup kita tarohannya.”.

Itu respon sahabatku yang sedang hamil 4 bulan, setelah aku ngadu tentang kelakuan para laki-laki di sekelilingku.

Dan tiba-tiba saja, setelah wejangan-wejangan itu terserap dipikiranku, idola di masa sma itu tiba-tiba menghubungiku dan menyatakan bahwa dia berniat untuk datang ke rumah dan melamarku.

Iya, aku memang sedang digoda oleh hal-hal seperti itu, terlebih ketika aku sudah membuat kesepakatan untuk menikah. Ajaibnya, godaan itu sama sekali tidak menggodaku. tidak membuat aku berfikir dua kali. Aku tidak tergiur..jujur..sama sekali tidak!

Aku mengatakan padanya bahwa aku sudah sepakat untuk menikah dengan seseorang. Dia terdiam..dan pada akhirnya dia meminta tolong aku untuk mencarikan jodoh untuknya. Kriterianya sederhana sekali “pokonya yang siap nikah”.

Aku berfikir cukup lama. Berfikir karena aku sedang mencoba untuk memahami apa yang dimaksudnya. Siap nikah?. Apakah maksudnya perempuan berumur diatas 17 tahun? atau di atas 20 tahun? Atau perempuan yang bisa memasak? atau perempuan yang bisa mengurus anak? Atau perempuan yang rajin beres-beres?

Aku bener-bener ga ngerti…

Aku mulai menganalisanya pada diriku. Umurku 26 tahun. Aku tidak bisa memasak. Aku biasa mengurus ponakanku walaupun tidak 100%. Aku tidak suka beres-beres. Dan aku siap menikah.

mmmmh..tapi aku punya kakak, yang berumur 28 tahun. Dia perempuan sekali. sangat keibuan. Pandai memasak. Hobinya beres-beres. Telaten mengurus anak. Tapi anehnya, dia tidak siap menikah.

Kenapa aku yang tidak bisa memasak lebih siap menikah dibanding kakaku yang jago memasak? kenapa aku yang tidak suka beres-beres menganggap diri siap untuk menikah? kenapa aku yang gayanya sesuka hati bisa melangkah sejauh ini?

Aku bingung..aku mulai melihat ini sebagai suatu kerancuan.

Lama aku termenung!dan akhirnya aku menemukan jawaban kenapa aku siap menikah.

jawabannya..Laki-laki yang berniat menikahiku, berhasil menghilangkan rasa takutku tentang menikah. Laki-laki yang berniat menikahiku membuatku yakin bahwa dia mampu melindungiku. Laki-laki yang berniat menikahiku, mampu meyakinkanku bahwa aku mampu untuk menikah.Laki-laki itu membuatku menjadi siap.

Lalu aku berkesimpulan bahwa kata layak tidak berarti siap, dan memutuskan secara sepihak bahwa perempuan-perempuan sejenis kakaku hanya masuk dalam kategori layak saja untuk menikah. Selayak apapun mereka, mereka tidak akan menjadi siap bila hati mereka tidak teryakinkan.

5 Responses to “Layak VS Siap”

  1. Rezin Says:

    Ah…bisa saja ibu ini :P
    Tapi bener dan masuk akal kok pendapat lo ini. Alhamdulillah akhirnya ada pria yg bisa membuat lo merasa seperti ini (setelah ribuan penggemar/penguntit berusaha dengan sekuat hati, wakakakak). Sepertinya tugasku sebagai ketua QFC akan segera berakhir, tugas yg begitu berat yg selama ini di pikul dalam menghadapi para fans mu yg berusaha mengorek informasi (jg photo) dengan sogokan2 yg lumayan (wakakakak) akhirnya akan segera berakhir. Tapi sepertinya gw harus kabur dan menyelamatkan diri karena mereka pasti minta pertanggung jawaban ke gw, “Mana janjimu!!! Katanya dia bakal mau ama gwwwww!!!” WAKAKAKAKAK…

  2. kikiumar Says:

    bro..
    dalam sekejap,bnyk hal yg bisa terjadi.
    dlm sekejap,bnyk hal bisa berubah.
    dlm sekejap jg,es itu mencair.
    gw msh takjub dgn smua ini..

  3. Tee Says:

    Sepertinya aku belum layak dan belum siap untuk menikah Ki..
    Karena kalau kelayakan dinilai dari keahlian memasak, beres2 dan ngurus anak pastinya aku tak layak.
    Sementara kalau kesiapan dinilai dari keberhasilan lelaki-ku meyakinkanku, sudah pasti aku belum siap. Karena sudah jelas-jelas dia hanya berlindung dibalik kuota-kuota Tuhan sebagai dalihnya tiap kali aku berusaha membicarakan sesuatu yg ’serius’ itu.
    Aku senang karena lelakimu telah berhasil meyakinkanmu dan membuatmu menjadi sungguh siap untuk menikah.
    Selamat ya Ki.. Semoga kamu dan Silmi selalu dipersatukan dalam setiap nuansa hidup, selamanya..

  4. dirgaraya Says:

    sepertinya tidak ada yang siap dengan yang nama pernikahan atau pun di sebut layak …krn smua yang kita jalani ini adlh takdir ,bgm kalau kita simpulkan kalau perkawinan itu adalah takdir yang baik yang akan atau sementara km jalani…sebenarnya kalau boleh jujur tulisan km buat dirimu seolah bagai fatamorganaku akan dirimu tp itu benar telah terjadi…dan hanya bisa berucap syukur dan ucapan selamat betapa beruntungnya menjadi lelaki yang dapat menjadi bagian dari takdirmu…KAMU SEMPURNA MENURUT AKU … (Terlintas anadai km bisa di keloning)

  5. me.... Says:

    SEBUAH CERITA……..
    Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya
    sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap
    dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang
    kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya
    untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi
    kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia.
    Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang
    mata kepadanya sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk
    kekasihnya. Kekasihnya bertanya, “Sekarang kamu bisa
    melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?”
    Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata
    buta. Dia menolak untuk menikah dengannya.
    Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan
    kemudian menulis sepucuk surat singkat kepada gadis itu,
    “Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya.”
    Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran
    manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya
    sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya
    dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus
    berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan
    di saat yang paling menyakitkan.
    Hidup adalah anugerah
    Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan
    kata-kata kasar -
    Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.
    Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa
    makananmu -
    Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun
    untuk dimakan.
    Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau isterimu
    Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Allah SWT
    meminta pasangan hidup.
    Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu -
    Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke
    Rahmatullah.
    Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu -
    Ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan
    kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.
    Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang
    kotor, dan tidak ada yang membersihkan atau menyapu lantai
    Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di
    jalanan.
    Sebelum merengek karena harus menyopir terlalu jauh
    Ingatlah akan sesorang yang harus berjalan kaki
    untuk menempuh jarak yang sama.
    Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang
    pekerjaanmu -
    Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan
    mereka yang menginginkan pekerjaanmu.
    Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain
    Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak
    berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Akhirat.
    Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu
    Pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima
    kasihlah pada Allah SWT karena engkau masih hidup dan ada di
    dunia ini.
    Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah,
    syukuri dan isilah itu.
    NIKMATILAH SETIAP SAAT DALAM HIDUPMU, KARENA
    MUNGKIN ITU TIDAK AKAN TERULANG LAGI!

Leave a Reply