Layak VS Siap
Friday, October 10th, 2008Suatu malam, sudah cukup larut, aku mendapati sebuah nomer tak dikenal berstatus miscalled dalam layar hpku, dan sebuah sms dari nomer yang sama. Isinya begini “Asswrwb.punten ganggu,ini kiky bukan?”
Hmm…sejujurnya, memang ada 2 hal yang ganggu dari sms itu. Pertama, cara dia menyingkat salam, dan yang kedua cara dia menulis namaku. Namaku KIKI. Ka-I-Ka-I. bukan Ka-I-Ka-Ye.
Tapi sudahlah, kita lupakan itu untuk sementara ini, karna inti kisah ini bukan tentang ejaan salam atau ejaan namaku.
Rupanya si pemilik nomer tak dikenal itu adalah teman lamaku. Bisa dibilang dia adalah pujaan hatiku pada suatu masa yang sudah cukup lama. Masa dimana aku masih mengenakan seragam putih-abu.
Yang membuatku sedikit surprise adalah, beberapa jam sebelumnya aku sempat memikirkan dia beberapa saat. Karena saat itu aku sedang berkumpul dengan teman-teman SMAku yang tidak pernah bertemu hampir satu dasawarsa lamanya. Kami berkumpul dalam sebuah acara reuni, dimana semua kenangan masa lalu diungkit-ungkit sebagai bahan perbincangan. Kami terbahak mengenang kebodohan-kebodohan masa lalu. Kami menggeleng-gelengkan kepala mengingat betapa tidak masuk akalnya kelakuan-kelakuan kami di masa itu.
Dan..berkelebatlah bayangan dirinya dalam ingatanku, saat sahabatku mengatakan “ah..bakal banyak banget godaannya ki!itumah hampir semua orang pasti ngalamin.tiba-tiba para mantan pada minta balikanlah..kenalan baru yang neror dalam rangka pedekate-lah..Pokonya apapun itu, kamu harus teguh!jangan sampe nyesel belakangan. Karena nikah itu sisa hidup kita tarohannya.”.
Itu respon sahabatku yang sedang hamil 4 bulan, setelah aku ngadu tentang kelakuan para laki-laki di sekelilingku.
Dan tiba-tiba saja, setelah wejangan-wejangan itu terserap dipikiranku, idola di masa sma itu tiba-tiba menghubungiku dan menyatakan bahwa dia berniat untuk datang ke rumah dan melamarku.
Iya, aku memang sedang digoda oleh hal-hal seperti itu, terlebih ketika aku sudah membuat kesepakatan untuk menikah. Ajaibnya, godaan itu sama sekali tidak menggodaku. tidak membuat aku berfikir dua kali. Aku tidak tergiur..jujur..sama sekali tidak!
Aku mengatakan padanya bahwa aku sudah sepakat untuk menikah dengan seseorang. Dia terdiam..dan pada akhirnya dia meminta tolong aku untuk mencarikan jodoh untuknya. Kriterianya sederhana sekali “pokonya yang siap nikah”.
Aku berfikir cukup lama. Berfikir karena aku sedang mencoba untuk memahami apa yang dimaksudnya. Siap nikah?. Apakah maksudnya perempuan berumur diatas 17 tahun? atau di atas 20 tahun? Atau perempuan yang bisa memasak? atau perempuan yang bisa mengurus anak? Atau perempuan yang rajin beres-beres?
Aku bener-bener ga ngerti…
Aku mulai menganalisanya pada diriku. Umurku 26 tahun. Aku tidak bisa memasak. Aku biasa mengurus ponakanku walaupun tidak 100%. Aku tidak suka beres-beres. Dan aku siap menikah.
mmmmh..tapi aku punya kakak, yang berumur 28 tahun. Dia perempuan sekali. sangat keibuan. Pandai memasak. Hobinya beres-beres. Telaten mengurus anak. Tapi anehnya, dia tidak siap menikah.
Kenapa aku yang tidak bisa memasak lebih siap menikah dibanding kakaku yang jago memasak? kenapa aku yang tidak suka beres-beres menganggap diri siap untuk menikah? kenapa aku yang gayanya sesuka hati bisa melangkah sejauh ini?
Aku bingung..aku mulai melihat ini sebagai suatu kerancuan.
Lama aku termenung!dan akhirnya aku menemukan jawaban kenapa aku siap menikah.
jawabannya..Laki-laki yang berniat menikahiku, berhasil menghilangkan rasa takutku tentang menikah. Laki-laki yang berniat menikahiku membuatku yakin bahwa dia mampu melindungiku. Laki-laki yang berniat menikahiku, mampu meyakinkanku bahwa aku mampu untuk menikah.Laki-laki itu membuatku menjadi siap.
Lalu aku berkesimpulan bahwa kata layak tidak berarti siap, dan memutuskan secara sepihak bahwa perempuan-perempuan sejenis kakaku hanya masuk dalam kategori layak saja untuk menikah. Selayak apapun mereka, mereka tidak akan menjadi siap bila hati mereka tidak teryakinkan.