1/3, 23 dan kesempurnaan sejati
Ga tau gimana awalnya, yang pasti…akhirnya aku dipercaya sahabat-sahabat SMPku untuk ngedengerin keluhan, curhatan, atau cuman sekedar tempat berbagi rahasia mereka. “Ngga ada hidup yang sempurna!!” atau “Hidup tuh kaya roda. Terus muter!!ga mungkin seneng terus!”.
Sounds Klise, Right?!! Kata itu ibarat keyword yang gatau udah berapa ratus kali keluar dari mulutku sebagai tanggapan awal dari keluhan mereka.
Bisa dibilang kata-kata itu sebenernya cuma basa-basi. karena ga ada kata sakti laen yang kepikiran saat itu. Toh aku juga ga tau gimana rasanya berada diposisi mereka. Aku gatau rasanya dipukulin ayah. Aku gatau rasanya kabur karena diusir orang tua. Aku ga pernah ngalamin rasanya gapunya uang sama sekali sampe-sampe ga masuk sekolah karena ga mampu bayar angkot. Aku gatau gimana repotnya bagi waktu antara belajar, beresin rumah, ngurus adik plus bikin gorengan buat dijual di koperasi sekolah. AKU GATAU!!!! aku ga pernah ngalamin itu semua.
tapi anehnya mereka selalu nurutin nasehat dari orang awam yang so tau ini. Dan selalu berakhir dengan ucapan terima kasih karena menurut mereka anjuranku manjur.
Aku terlahir sebagai anak bungsu yang punya banyak kakak.Keluarga yang hangat dan sangat besar. Kami bukan keluarga kaya tapi juga ga kekurangan. Semuanya serba cukup!!
Ayahku orang yang toleran, demokratis sekaligus disiplin dalam waktu yang bersamaan. Ibuku wanita karir yang sangat perhatian dan pandai membagi waktunya dengan keluarga. Mereka berdua bekerja, tapi kami, anak-anaknya, tidak terbengkalai. Semuanya berjalan lancar. Sangat lancar. Hidupku sempurna! Sampai akhirnya aku dapat pukulan telak ketika awal kelas 1 SMA. Ayahku meninggal. Komplikasi jantung dan diabetes. Dunia berubah!! Di satu sisi keluargaku semakin solid. Di sisi lain aku kehilangan 1/3 jiwaku.
Kali pertama aku mengatakan “Ngga ada hidup yang sempurna dan hidup memang kaya roda” pada diri sendiri. Ironis.. tapi mama ga pernah lelah nyemangatin kami tanpa mempedulikan kehampaannya sendiri. Ternyata..dunia ga banyak berubah!!
Aku mulai bergaul dengan komunitas baru yang cukup bisa “menghidupkan” aku lagi. Lagi-lagi aku berperan sebagai konselor.. Dan masalah mereka lebih ribet lagi. Aku mulai bersahabat dengan ungkapan “Selalu ada langit di atas langit”. Kesedihan aku, keterpurukan aku, kekecewaan aku ditinggal ayah ternyata ga ada apa-apanya dibanding rumitnya masalah orang lain. Dan itu pertama kalinya aku mulai bisa bersyukur lagi. Aku suka berteman, mencari temen baru, berkomunitas dan rasa empatiku juga tinggi banget. mungkin turunan dari orang tua.
Ga sulit buat aku cari teman baru. Baru awal masuk kuliah aku bertemu dengan sekelompok orang yang menyenangkan. Yang hidupnya hanya buat berfoya-foya. Bener-bener ga punya beban pikiran apa-apa. Jarang kuliah, Masalahnya sekitar pacar atau gebetan. Semuanya begitu mudah dipecahkan. Hidup mereka begitu sempurna walau tampak tak berkualitas! Ga ada tantangan yang berarti yang bakal bikin kita lebih baik dari sebelumnya. Bosen juga lama-lama. Aku mulai terbawa pergaulan. Santai jadi motto kami.Beruntung punya mama bukan tipe orang tua yang menuntut ini itu dan mentarget anaknya harus lulus tepat waktu. Tapi justru itu yang bikin aku mikir dan malu. Aku mati-matian berusaha ngejar semua ketinggalan di kampus. Akhirnya aku lulus tepat waktu.
Ada kebanggaan yang ga bisa aku jelasin ketika suatu hari di suatu acara mama bilang ke temen-temennya “Ini anak saya yang bungsu. Baru wisuda kemaren”. Mungkin itu ga dahsyat buat orang lain. Tapi buat aku itu kepuasan yang luar biasa dan mungkin Cuma satu-satunya kebahagiaan yang bisa aku persembahkan buat mama.
Bareng temen-temen yang baru lulus, kami buka advertising kecil-kecilan. Hasilnya lumayan. Tapi terus aku resign karena pengen ngurus mama. Saat itu, akhir 2005 mama kelihatan kurang sehat. Berat badannya turun drastis dari 60 jadi 42 kg. Trauma takut diabetes kaya ayah. Tapi mama yang anti dokter ga mau periksa dan Beliau tetep pergi kerja seperti biasa.
Belum genap 3 bulan yang lalu, tepatnya 14 Februari 2006, di hari kasih sayang itu, Tuhan menunjukkan rasa cinta-Nya buat Mama. Mama dipanggil-Nya setelah kurang lebih 1 bulan dokter memvonisnya leukimia. Akhirnya mama lepas dari rasa sakit, yang saking sakitnya, ngebayangin gimana rasanyapun aku ga sanggup.
Sekarang jiwaku tinggal 1/3.
Dan Mama..Wanita yang tangguh itu..kini menyemangatiku dari surga, bersama ayah.
Jangan Tanya gimana terpuruknya aku.. Si bungsu yang udah sarjana ini ternyata baru bener-bener ngerasa “hidup yang sesungguhnya” di usia yang ke 23. Usia yang udah ga muda tapi belum juga dewasa. Aku harus tegar. Aku harus mandiri. Aku ga mau jadi beban orang, walaupun itu kakak-kakakku sendiri. Sekarang aku menyibukan diri dengan melakukan hobi-hobi lamaku. Mendesain baju untuk aku sendiri dan kaka. Kami punya selera yang hampir sama soal fashion. Walaupun ada kalanya bertolak belakang. Suatu hari nanti aku ingin memproduksi baju dan punya toko sendiri.
Kesibukanku yang lain adalah mendengarkan curhatan temen-temen plus ngasih masukan, like always!! Ga ada yang istimewa memang..tapi buatku, lagi-lagi, itu sangat berarti. Seakan-akan aku menjadi most wanted! begitu dibutuhkan dan dihargai. Merasa special. Aku ada artinya buat orang!! Kata-kataku didenger!!! Tanpa aku sadari, aku udah ngebantu meringankan pikiran mereka. At least joke-ku bisa sedikit ngehibur mereka. Aku seperti lupa akan segala kesedihanku tanpa aku harus “berubah” menjadi orang lain. Dengan gitu aku ngerasa ga punya masalah.
Sepertinya aku punya kata-kata lain, yang walaupun maksudnya sama, tapi kalo dirangkainya beda, ada kesan optimis yang aku rasa, yaitu “Memang ga ada hidup yang sempurna, tapi Pasti ada satu sisi kehidupan kita yang kita rasa sempurna”. Dan aku udah nemu sisi kehidupan mana yang bikin aku ngerasa sempurna. Yaitu ketika omonganku didenger, kata-kataku berpengaruh (in a good way!), dan orang ngerasa terbantu oleh itu semua. Itu bener-bener kesempurnaan sejati!!
June 24th, 2008 at 2:19 am
they must be proud of you, no doubt about it!
keep going, coz big results come often from small thoughts. you go girl!!!
June 25th, 2008 at 2:07 am
hmmmmh…I WILL!!
thx bop!!
June 26th, 2008 at 12:40 pm
wow…………………………………………
wow
September 20th, 2008 at 7:54 pm
Persamaan kita adlh…kita sama2 sdh tdk ada ortu ki.. aku yakin, ortu kita menginginkan kita lebih tegar, slalu bersyukur,selalu optimis….n’ tetap semangat dlm menghadapi gelombang hidup. keep smile ya ki!….