Archive for June, 2008

sutradara babak pertama

Thursday, June 26th, 2008

<!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>

hidup ini lucu
sekali.

Kadang kita
berfikir bahwa kita adalah sutradara dari hidup kita. Mengatur segalanya semau
kita. Berancang-ancang tentang hari depan. Menyenangkan bukan jadi sutradara? menyenangkan
karena punya kekuasaan absolut. Itulah kenapa aku gamau berhenti jadi
sutradara. Aku gamau berhenti mengkonsep hari depanku.

Dengan jadi
sutradara, aku bisa memilih siapa pemain yang berperan dalam ceritaku. Aku bisa
menentukan karakter seperti apa yang harus dijiwai oleh para pemain. Aku bisa
memutuskan pakaian atau aksesoris seperti apa yang pantas dikenakan oleh
mereka. Dan aku jugalah yang mengatur tempat dimana semua hal akan terjadi.

 

Banyak hal
yang ga berjalan sesuai konsepku. Konsep yang aku kira udah mateng, yang udah
bikin aku termenung setelah bermimpi di siang bolong itu hingga siang-siang
bolong di hari-hari berikutnya. Konsep yang membuatku terjaga sampai larut
malam dan malam-malam larut berikutnya.

Konsep yang
menyebabkan banyak hal melayang-layang dipikiranku. Hal yang menuntun kehadiran
imajinasi-imajinasi yang kemudian menginspirasikan terlahirnya sebuah skenario hidup
idealis yang sempurna.

 

Suatu pagi
aku menemukan diriku kelelahan menjadi sutradara karena skenario itu masih rapi
ditempatnya. Aku letakkan lagi beberapa hari lalu di tempatnya karena tidak ada
yang dapat memerankannya dengan sempurna. Aku tidak lebih dari seorang sutradara
gagal, yang tidak juga dapat menghasilkan mahakarya. Aku gagal.

 

Beberapa hari
lalu aku sempat menyerah dengan keadaan. Entah apa yang hinggap dipikiranku
kemarin itu. Beberapa hari yang berkesan, tapi juga meninggalkan lebam pekat dihatiku.
Berkesan karena sesuatu yang baru, dan lebam karena hasil dari penyesalan yang
dalam. Menyesal karena sudah sempat berkhianat dari konsep itu.

 

Banyak yang
kupertaruhkan dari idealismeku. Banyak dispensasi yang kutawarkan dari konsep
sempurnaku. Banyak yang aku lakukan dari hal yang tidak pernah kulakukan. Dimana
otakku yang dulu? Dimana otakku kemarin itu? Dan dimana otakku sekarang?
Sepertinya sudah berubah permanen.

bangun!!!!

Thursday, June 26th, 2008

<!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>

Keinginan jarang
banget sesuai dengan kenyataan. Basi skali!!!!

Semua orang tau
itu. Bahkan hal itu berlaku buat orang-orang yang tampaknya sangat beruntung.
Karena apa yang tampak juga belum tentu seperti kenyataannya.

Aduuuh…kadang berfikir,
kenapa ya aku gabisa kaya orang lain yang bisa damai sejahtera karena bisa bertoleransi
sama kekurangan orang.

Hmmm..seakan-akan
aku sempurna saja.

Tapi bukannya kebanyakan
orang juga seringkali merasa dirinya sempurna?? Bahkan mungkin hampir semua orang begitu kayanya.
Ya seperti diriku ini contohnya. Ya ampuuuuun…malu sekali. Tapi emang begitulah
adanya. Maluuuu… sungguh…selalu mengklasifikasikan orang diluar sadar. Siapa
aku?!!!

Sampai suatu hari
aku janji mau berubah. Pengen berubah jadi kaya orang-orang yang sudah memahami
sebuah kalimat keramat yaitu ’nggak ada manusia sempurna’.

Hmmmm…oke..karena
kalimat keramat itu diamini jutaan orang dari masa ke masa, berarti itu adalah
kesimpulan yang valid. Nilai reliabilitasnya tinggi. Ooo…untuk hal-hal kaya
gini toh istilah statistik itu bisa diterapin. Akhirnya aku mengerti!

Tapi…aku punya
hipotesa tambahan, bahwa diluar sana ada orang yang hampir mendekati sempurna.

Entah gimana,
tapi aku yakin. Yakin sekali.

Aku kirain,
setelah aku ngerubah paradigma itu, semuanya jadi berubah. Ada perbedaanlah
seenggaknya.

Ternyata tidak
semudah menjentikkan jari. Prosesnya bakal panjang kayanya.

Oh Tuhan…semoga
aku nggak frustasi dan kembali ke jalan yang berlubang itu. Hmm…sulit juga
mencoba memahami. Sulit banget mencoba buat memaklumi. Sulit sekali mencoba
buat menerima. Yang lebih sulit lagi adalah menjalankannya.

Bikin gila!!

Kenyataannya…masih
banyak orang diluar sana yang ingin merealisasikan keinginannya. Membuat
keinginannya jadi nyata. Dan menuntut siapapun untuk jadi seperti apa dan siapa
yang diinginkannya.

Hahahaha…ingin
rasanya tertawa terbahak. Ingin rasanya mencolek dan membuat orang-orang
seperti itu terjaga dari mimpi indahnya yang panjang.

Ayo
bangun!!!

kamu itu aku

Wednesday, June 25th, 2008

&lt;!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:&quot;&quot;;
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–&gt;

Mustinya ini ga penting buat dipikirin.

Tapi nongol terus. Minta diperhatiin.

Pikiran ini ganggu banget!

 

Asal kamu tau..Aku ga bilang aku tertarik.

Karena di awal aku ngerasa ga ada yang menarik.

Tanganku ga beku.

Mulutku ga kaku.

Hatiku juga ga meleleh.

Mungkin karna kamu bukan tipe impianku.

Tipe impian yang sebenernya Cuma ada di negri dongeng.

Walaupun..bolehlah dapet nilai tujuh dari 10.

Kamu oke dari permukaan. Tapi tetep aku ga tertarik.

 

Aku ga tertarik. Tapi aku kepikiran.

Kepikiran karena..harusnya kamu yang tertarik.

Harusnya kamu yang kepikiran aku.

Aku memang sombong. Dan orang harus maklum sama sombongku.

Karena aku ga sembarang sombong.

Aku sombong karena ada yang bisa aku sombongin.

 

Mungkin itu juga yang kamu pikirin.

Kamu pikirin apa yang aku pikirin.

Kamu pengenin apa yang aku pengenin.

Kamu sombongin apa yang aku sombongin.

Kamu terbiasa dengan apa yang aku biasa dapetin juga.

 

Sombong sekali kita.

Buruknya jadi mahluk sombong.

Aku ga suka!ga suka orang sombong.

Gasuka kamu. Gasuka aku.

Aku berenti jadi orang sombong.

Aku udah sembarangan ngomong.

Karena ternyata ga ada yang bisa aku sombongin.

Buktinya ada yang bisa nyamain aku.

Untuk kali ini, baru kamu orangnya.

 

kamu itu…aku!!

1/3, 23 dan kesempurnaan sejati

Tuesday, June 24th, 2008

Ga tau gimana awalnya, yang pasti…akhirnya aku dipercaya sahabat-sahabat SMPku untuk ngedengerin keluhan, curhatan, atau cuman sekedar tempat berbagi rahasia mereka. “Ngga ada hidup yang sempurna!!” atau “Hidup tuh kaya roda. Terus muter!!ga mungkin seneng terus!”.

Sounds Klise, Right?!! Kata itu ibarat keyword yang gatau udah berapa ratus kali keluar dari mulutku sebagai tanggapan awal dari keluhan mereka.

Bisa dibilang kata-kata itu sebenernya cuma basa-basi. karena ga ada kata sakti laen yang kepikiran saat itu. Toh aku juga ga tau gimana rasanya berada diposisi mereka. Aku gatau rasanya dipukulin ayah. Aku gatau rasanya kabur karena diusir orang tua. Aku ga pernah ngalamin rasanya gapunya uang sama sekali sampe-sampe ga masuk sekolah karena ga mampu bayar angkot. Aku gatau gimana repotnya bagi waktu antara belajar, beresin rumah, ngurus adik plus bikin gorengan buat dijual di koperasi sekolah. AKU GATAU!!!! aku ga pernah ngalamin itu semua.

tapi anehnya mereka selalu nurutin nasehat dari orang awam yang so tau ini. Dan selalu berakhir dengan ucapan terima kasih karena menurut mereka anjuranku manjur.

Aku terlahir sebagai anak bungsu yang punya banyak kakak.Keluarga yang hangat dan sangat besar. Kami bukan keluarga kaya tapi juga ga kekurangan. Semuanya serba cukup!!

Ayahku orang yang toleran, demokratis sekaligus disiplin dalam waktu yang bersamaan. Ibuku wanita karir yang sangat perhatian dan pandai membagi waktunya dengan keluarga. Mereka berdua bekerja, tapi kami, anak-anaknya, tidak terbengkalai. Semuanya berjalan lancar. Sangat lancar. Hidupku sempurna! Sampai akhirnya aku dapat pukulan telak ketika awal kelas 1 SMA. Ayahku meninggal. Komplikasi jantung dan diabetes. Dunia berubah!! Di satu sisi keluargaku semakin solid. Di sisi lain aku kehilangan 1/3 jiwaku.

Kali pertama aku mengatakan “Ngga ada hidup yang sempurna dan hidup memang kaya roda” pada diri sendiri. Ironis.. tapi mama ga pernah lelah nyemangatin kami tanpa mempedulikan kehampaannya sendiri. Ternyata..dunia ga banyak berubah!!

Aku mulai bergaul dengan komunitas baru yang cukup bisa “menghidupkan” aku lagi. Lagi-lagi aku berperan sebagai konselor.. Dan masalah mereka lebih ribet lagi. Aku mulai bersahabat dengan ungkapan “Selalu ada langit di atas langit”. Kesedihan aku, keterpurukan aku, kekecewaan aku ditinggal ayah ternyata ga ada apa-apanya dibanding rumitnya masalah orang lain. Dan itu pertama kalinya aku mulai bisa bersyukur lagi. Aku suka berteman, mencari temen baru, berkomunitas dan rasa empatiku juga tinggi banget. mungkin turunan dari orang tua.

Ga sulit buat aku cari teman baru. Baru awal masuk kuliah aku bertemu dengan sekelompok orang yang menyenangkan. Yang hidupnya hanya buat berfoya-foya. Bener-bener ga punya beban pikiran apa-apa. Jarang kuliah, Masalahnya sekitar pacar atau gebetan. Semuanya begitu mudah dipecahkan. Hidup mereka begitu sempurna walau tampak tak berkualitas! Ga ada tantangan yang berarti yang bakal bikin kita lebih baik dari sebelumnya. Bosen juga lama-lama. Aku mulai terbawa pergaulan. Santai jadi motto kami.Beruntung punya mama bukan tipe orang tua yang menuntut ini itu dan mentarget anaknya harus lulus tepat waktu. Tapi justru itu yang bikin aku mikir dan malu. Aku mati-matian berusaha ngejar semua ketinggalan di kampus. Akhirnya aku lulus tepat waktu.

Ada kebanggaan yang ga bisa aku jelasin ketika suatu hari di suatu acara mama bilang ke temen-temennya “Ini anak saya yang bungsu. Baru wisuda kemaren”. Mungkin itu ga dahsyat buat orang lain. Tapi buat aku itu kepuasan yang luar biasa dan mungkin Cuma satu-satunya kebahagiaan yang bisa aku persembahkan buat mama.

Bareng temen-temen yang baru lulus, kami buka advertising kecil-kecilan. Hasilnya lumayan. Tapi terus aku resign karena pengen ngurus mama. Saat itu, akhir 2005 mama kelihatan kurang sehat. Berat badannya turun drastis dari 60 jadi 42 kg. Trauma takut diabetes kaya ayah. Tapi mama yang anti dokter ga mau periksa dan Beliau tetep pergi kerja seperti biasa.

Belum genap 3 bulan yang lalu, tepatnya 14 Februari 2006, di hari kasih sayang itu, Tuhan menunjukkan rasa cinta-Nya buat Mama. Mama dipanggil-Nya setelah kurang lebih 1 bulan dokter memvonisnya leukimia. Akhirnya mama lepas dari rasa sakit, yang saking sakitnya, ngebayangin gimana rasanyapun aku ga sanggup.

Sekarang jiwaku tinggal 1/3.

Dan Mama..Wanita yang tangguh itu..kini menyemangatiku dari surga, bersama ayah.

Jangan Tanya gimana terpuruknya aku.. Si bungsu yang udah sarjana ini ternyata baru bener-bener ngerasa “hidup yang sesungguhnya” di usia yang ke 23. Usia yang udah ga muda tapi belum juga dewasa. Aku harus tegar. Aku harus mandiri. Aku ga mau jadi beban orang, walaupun itu kakak-kakakku sendiri. Sekarang aku menyibukan diri dengan melakukan hobi-hobi lamaku. Mendesain baju untuk aku sendiri dan kaka. Kami punya selera yang hampir sama soal fashion. Walaupun ada kalanya bertolak belakang. Suatu hari nanti aku ingin memproduksi baju dan punya toko sendiri.

Kesibukanku yang lain adalah mendengarkan curhatan temen-temen plus ngasih masukan, like always!! Ga ada yang istimewa memang..tapi buatku, lagi-lagi, itu sangat berarti. Seakan-akan aku menjadi most wanted! begitu dibutuhkan dan dihargai. Merasa special. Aku ada artinya buat orang!! Kata-kataku didenger!!! Tanpa aku sadari, aku udah ngebantu meringankan pikiran mereka. At least joke-ku bisa sedikit ngehibur mereka. Aku seperti lupa akan segala kesedihanku tanpa aku harus “berubah” menjadi orang lain. Dengan gitu aku ngerasa ga punya masalah.

Sepertinya aku punya kata-kata lain, yang walaupun maksudnya sama, tapi kalo dirangkainya beda, ada kesan optimis yang aku rasa, yaitu “Memang ga ada hidup yang sempurna, tapi Pasti ada satu sisi kehidupan kita yang kita rasa sempurna”. Dan aku udah nemu sisi kehidupan mana yang bikin aku ngerasa sempurna. Yaitu ketika omonganku didenger, kata-kataku berpengaruh (in a good way!), dan orang ngerasa terbantu oleh itu semua. Itu bener-bener kesempurnaan sejati!!

for Bun…from me…

Wednesday, June 11th, 2008

Bun…
Trimakasih banyak ya…

Bincang-bincang singkat dan santai kmaren itu berkesan dalem banget buatku.
Aku baru tau kalo ada orang yang segitunya memaknai kata bersyukur.
I’m proud of you!!

Itu hal yang simple, tapi ga terbersit sedikitpun sama aku.
Walaupun aku udah tau dari dulu kalo semakin banyak kita bersyukur, maka nikmat akan makin berlimpah.
Dan aku juga tau dari dulu, kalo kita banyak mengeluh, yang kita dapet ga lebih dari berbagai kesulitan-kesulitan lagi.
Tapi aku ga memaknai hal itu segitunya…

Taugasih Bun..selama ini aku merasa cukup dengan mengucap Alhamdulillah atas semua berkah yang aku dapet, atas semua kemudahan yang Allah kasih.
Dangkal banget aku ini!!
Seketika, aku ngerasa jadi mahluk paling sombong kalo nginget-nginget kelakuanku sehari-hari. Aku ngerasa sombong  karena selalu bangun siang dan melewatkan udara pagi yang seger, seakan-akan kesegaran itu bisa aku dapetin kapan aja aku mau. Padahal ampir tiap siang aku ngeluh karena udara yang sangat ga nyaman.
Aku sangat sombong karena ga peduli dengan proses munculnya matahari, padahal akhir-akhir ini, tiap malem, aku selalu takut ngelewatin malem.
Aku takut karena hari berganti cepet banget. Aku takut karena…..karena hal yang ga bisa aku jelasin..karena…aku juga sebenernya gatau kenapa!
Aku ngerasa sombong, karena menyia-nyiakan energi mudaku ini dengan banyak berleha-leha, seakan aku bakal punya energi yang sama sampe kapan pun. Seakan aku bakal idup lama banget.
Ya ampuuuun….aku dangkal sekali!!!!!   

Bun…terim kasih ya…udah jadi kaka yang baik. Udah nyiapin jus-jus sehat, seger dan enak buatku tiap hari. udah ngerelain selimut kamu buat aku waktu kemaren aku menggigil. Udah nyiapin menu makanku tiap hari. Udah kasih masukan dan ide-ide waktu kemaren aku stuck.
Lucunya, itu adalah cara kamu bersyukur atas semua kesempatan yang Allah kasih ke kamu, ketika kamu masih bisa bantu orang-orang di sekeliling kamu.
Dibilang ‘lucu’ karena itu adalah hal yang sangat mudah buat dilakuin. Mungkin aku juga bakal lakuin hal yang sama. Tapi selama ini aku ga memaknai itu sebagai rasa bersyukur.
Bun…aku bakal niru itu!!mudah-mudahan aku ga lupa ya…

Untuk kamu tau Bun… Walopun kita sering berantem, walopun aku seriiiing banget ngebantah kata-kata kamu, itu sama sekali ga berarti aku ga sayang kamu…
Itu hanya karena kita hanya sama-sama perempuan yang lahir di hari kamis di bulan september!!!!hahaha…KEPALA BATU!!!
Hehe!!!

that’s what we are!!

Bun…i love u..

OoowH soooo much!!