si ‘otak kecil’

Sejak lama aku sudah berfikir tentang cita-cita. Lama sekali.
Sejak bocah aku sering ditanya tentang hal itu.
Aku pun sering bertanya hal itu pada bocah-bocah lain.
Temanku.
Perkara bertanya cita-cita menjadi semacam tradisi.
Basa-basi yang menjemukan ketika orang dewasa kehabisan
kata-kata.
Tapi, ketika aku dewasa, aku juga menanyakan hal yang sama
pada bocah-bocah.
Tapi bertanya itu hanya untuk mengetes ‘riak air’.
Riak air yang tak terprediksi. Kadang normal. Tapi kadang
mengejutkan.

Kebanyakan, bocah laki-laki berharap menjadi seperti
‘pahlawan’nya.
Umar, ponakanku menjawab, ‘aku pingin jadi sepidermen’.
Rayhan, ponakanku yang lain menjawab ‘aku ingin kaya mang
Otang’
Semua orang tau siapa itu spyderman. Tapi ga semua orang tau
siapa itu Mang Otang.
Umar bilang bisa jalan di dinding itu keren.
Rayhan bilang bisa nangkep belut pake tangan itu keren.
Umar bilang kalo jadi sepidermen bisa tiduran di jaring.
Rayhan bilang kalo jadi mang Otang bisa naik ke ujungnya
pohon kelapa.
Umar bilang sepidermen juga bisa naik pohon kelapa dan punya
senjata jaring ditangannya.
Rayhan bilang mang Otang punya golok di celananya dan setiap
hari jalan-jalan naik kebo.
Umar bilang, ya udah, aku pingin jadi mang Otang juga.

 Semua orang, normalnya, pasti punya cita-cita.
Cita-cita buat aku adalah keinginan, harapan, tujuan, dan
hasil akhir.
Tapi ketika pesimis dan frustasi akhirannya cita-cita Cuma sekedar
mimpi. Sekedar angan-angan, hanya lamunan, atau bahkan bualan.

Membual!
Aku suka kata itu. Untukku kesannya hebat. Seperti memiliki pikiran
yang lebih dibandingkan orang yang ‘dibuali’.
Seperti sekarang. Aku sedang membual. Tapi bukan maksudnya
aku mendeklarasikan diri bahwa aku hebat. Bukan sama sekali. Aku hanya
bernostalgia saja. Aku hanya menceritakan kisah yang mungkin semua orang pernah
mengalaminya. Mungkin juga semua orang memikirkannya. Mungkin juga semua orang
mengingatnya. Tapi tidak semua orang menuliskannya.

Sejak kecil, inginku banyak sekali.
Belum juga masuk TK aku sudah ingin jadi dokter. Seperti
suzan. Kesannya keren. Tapi aku penakut. Aku tak suka disuntik. Katanya jadi
dokter itu harus nyuntikin orang. Lebih baik aku tidak jadi dokter. Aku takut
ngilu ketika harus menyuntik pasien. Aku tak tega harus menusukkan benda tajam
itu ke pantat anak yang berontak tapi tak berdaya karena dipegangi suster.

 Agak besar sedikit aku terinspirasi pak Habibie. Saat itu
beliau jadi seperti ikon orang hebat. Aku ingin jadi seperti beliau. Jadi orang
hebat. Dan menurutku saat itu, menerbangkan pesawat jauh lebih hebat daripada
hanya sekedar membuat pesawat. jadilah aku ingin menjadi pilot. jadilah aku
berbeda dengan inspiratorku. Angan-anganku saat itu adalah membawa banyak
toples ketika bertugas dan memasukan awan-awan ke dalamnya untuk kujadikan
oleh-oleh. Seperti oleh-oleh yang dibawa kakaku pulang dari naik gunung. Dia
membawakan bunga eidelweiss setoples. Tapi katanya orang-orang, giginya pilot
ga boleh ada yang ompong. Dan saat itu gigi depanku goyang.

Aku patah hati. Aku patah hati dan membatin kenapa gigi susuku
harus goyang. Aku patah hati, kenapa dalam waktu dekat aku harus ompong. Aku
patah hati karna tidak bisa mengeruk banyak awan. Aku patah hati disaat
hasratku sedang menggebu-menggebunya untuk menjadi pilot.

Agak besaran lagi aku ingin punya toko kelontong. Toko
kelontong yang padat, sampai-sampai kita kesusahan untuk berjalan. Menyenangkan
bisa memiliki semua jenis barang. Menyenangkan bisa memanjat tumpukan kardus
untuk mencari barang yang diminta orang. Menyenangkan berkesan sibuk, lelah dan
bermandikan keringat. Menyenangkan tidak harus tidur siang karena sibuk. Menyenangkan
memiliki puluhan monopoli yang bisa diambil kapan saja. Menyenangkan tidak
perlu kebingungan kehilangan monopoli karena dibuang mama ketika aku sedang
malas membereskannya sehabis bermain.
Tapi katanya kalo punya toko harus selalu dijaga. Supaya semua
barang dagangan, termasuk monopolinya tidak dicuri orang. Jadi aku tidak bisa
bermain monopoli. Aku harus terus mengawasi barang daganganku. Aku tidak bisa
bermain monopoli di tokoku karena barang-barangku begitu menumpuk. Jadi tak
berguna aku punya begitu banyak monopoli.

Agak besaran lagi aku ingin jadi sopir bus. Mobilnya besar.
Kesannya garang. Temennya preman semua. Jadinya aman. Asik tiap hari kerjaannya
cuman jalan-jalan. Tau tempat-tempat pariwisata. Bisa mengatur kecepatan mobil sesuka
hati. Semua penumpang senang karena bisa tidur dengan tenang. Tidak ketakutan
karena aku mengendarai dengan tenang. Aku tidak akan ngebut. Tapi kalau di tanjakan
aku takutnya tidak bisa. Aku takutnya bisnya ngegelundung ke belakang.
Menghantam pohon, mobil, orang menyebrang, atau bahkan masuk jurang. Aku
takutnya orang-orang jadi masuk rumah sakit gara-gara aku. Aku takutnya
ditangkep polisi karena bikin orang celaka. Seperti pak Ibrahim, sopir pabrik
Ayahku yang masuk penjara karena bikin mati orang. Pak Ibrahim ngebut dan
nabrak orang yang sedang nyebrang. Terus gimana kalau aku dipenjara? Tidurnya
ama siapa? Kalau mau nonton Vicky si robot dimana?

Wah inginku terus berganti. Berganti terus.
Aku ga mungkin certain semua inginku.
Yang pasti, saat itu inginku banyak tapi nyaliku kecil.
Saat itu inginku banyak tapi akalku juga kecil.
Saat itu inginku memang banyak. Waktu masih kecil.

Leave a Reply