Maafkan aku…
Bayi kucing, maafkan aku ya!
Pagi tadi aku kacau sekali.
Benci tau diriku ga berguna.
Malu…semoga kamu maafin aku.
Karena sebenarnya aku sangat peduli padamu.
Jangan pernah sangsikan!!!
Tadi itu aku cuma takut…
Tolong, jangan ditertawakan!!
Aku tau itu ketakutan yang sungguh tidak masuk akal.
Karena itulah seharian ini pikiranku tertuju padamu
Aku terus berfikir, apa sebenarnya yang aku takutkan?
Takut pada cakaranmu?
Malu…karena bahkan jarimupun belum kuat menyangga tubuhmu.
Kamu masih bayi. Mungil. Rapuh.
Dan sepertinya pandanganmu pun masih runyam.
Atau aku takut pada indukmu?
Iya…sepertinya itu masuk akal.
Aku takut disangka menculik bayinya.
Lalu nanti dia bisa marah dan mencakarku.
Tapi…sepertinya hal itu menjadi tidak masuk akal di detik
berikutnya.
Karena indukmu tak mungkin menelantarkanmu di trotoar.
Dia pasti akan menjagamu.menyusuimu.
Atau mungkin indukmu sudah terkena rabies??sudah gila??
Tapi aku tidak yakin apa rabies menyebabkan insting
keibuannya hilang?!
Bayi kucing…
Kamu mengingatkan aku pada pengalaman tempo hari.
pada bayi manusia di jembatan penyebrangan
itu.
Mungkin umurnya sama dengan kamu. Itungan hari.
Dia digeletakan di jembatan turunan itu.
Ya Allah…lindungilah dia…
Semoga dia tidak terinjak atau tertendang hingga menggelinding.
Semoga dia tidak jatuh melewati batangan pembatas jembatan.
Semoga dia diberi kesehatan, dan keselamatan.
Lagi-lagi aku merasa sangat berdosa.
Bayi kucing…
Aku sempat melihat bayi manusia itu menangis.
Kakanya, mungkin berumur 3 taunan, memberinya dot susu.
Dot susu yang sudah terkena asap knalpot metromini, bus,
mikrolet, ojek, bajay, yang hilir mudik.
Dot susu yang sebelumnya diletakkan di topi berisi uang-uang
recehan.
Dot susu yang puting karetnya dipegang oleh tangan dekil
kakaknya.
Dot susu yang entah kemana tutupnya.
Dot susu yang isinya cairan putih nyaris transparan.
Disana, dibawah jembatan, induk bayi manusia itu ada.
Mengamati anak-anaknya dari jauh.
Mengamati apakah topinya sudah penuh uang recehan atau belum.
Mengamati apakah ‘setting’ seperti itu sudah cukup
‘dramatis’ atau belum.
Aku rasa dia sudah terkena rabies stadium 4.
Sebenarnya aku tak tau apakah rabies ada levelnya.
Tapi rasanya pantas bila dia masuk golongan stadium 4.
Atau mungkin dia seorang seniman yang mencoba-coba pertunjukan jalanan?
yang sedang menyusun KONSEP terbaru dalam setting-an dramanya?
oh…bayi kucing…
siapalah sebenarnya aku ini..
yang bisanya hanya menilai orang, tanpa kasih solusi.
bayi kucing..
sepertinya yang harus kulakukan sekarang adalah belajar dengan sungguh-sungguh.
agar ujianku lancar.
dan kelak, bila aku lulus, aku bisa berguna bagi nusa dan bangsa.
dan juga bagimu.
bayi kucing…
semoga suatu hari nanti, ketika aku sudah bisa beri solusi, kamu tidak benci padaku.
dan menyalahkanku atas apa yang seharusnya kuperbuat tadi pagi.
bayi kucing….
aku berdoa untukmu seharian ini. hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang.
bayi kucing…
juga bayi manusia..
sekali lagi…maafkan aku!!