Archive for May, 2008

jangan aneh!!

Friday, May 30th, 2008

Apa sih yang nggak aneh didunia ini?
tampaknya saat ini semuaaaaaaaaaaaaaa aneh!
termasuk kita, ato aku?? anggap aja kita ya…karena pasti ada beberapa orang yang serupa ama aku.
Kita aneh karena cinta sama orang yang anehnya serupa ama kita.

Pemahaman orang tentang cinta juga aneh.
Karena baru bisa dibilang ’cinta’, kalo kita bisa maafin kesalahan dia,
bisa ngertiin apa maunya, juga kalo kita udah nangis gara-gara dia tapi kita
tetep masih peduli ama dia, masih setia nunggu padahal dianya dah ga
peduli, masih bisa senyum waktu dia bilang ’aku sekarang cinta sama
xxxxxx’, which is….bukan kita!

Tapi yang lebih aneh itu kitanya lagi, karena kita nimpalin ‘Aku ikut
bahagia buat kamu’.

Halllaaaah!!!
Capenya jadi orang aneh!

Hidup udah cukup aneh tauuu..dengan hanya nyediain kebahagiaan buat orang-orang yang
nangis, tersakiti, yang udah mencari dan yang udah mencoba.
(Tau kenapa? Karena Cuma orang-orang yang udah berjuang dan menderita
kaya gitulah yang bisa ngehargain pentingnya arti orang yang pernah
nyentuh kehidupan mereka.) Dan anehnya lagi, kalo sampe pada waktunya
kita harus lepasin orang aneh yang kita cintai, katanya itu bukan
akhir, tapi awal kehidupan baru.

jadi gausahlah ditambah2 dengan keanehan diri kita.
bukankah hidup itu semacam seleksi alam?
Kalau dia ga bertahan, berarti udah terseleksi dengan sendirinya oleh alam, a.k.a dia ga worthed buat kita.

so…tersenyumlah, karna disana, suatu hari, cinta yang beneran tulus dan ga aneh itu ada, menunggu, atau mungkin malah nyamperin. pokonya intinya sih cinta itu bakalan dateng, dan bikin kita yang aneh jadi ga aneh lagi.
tapi jangan senyam-senyum keterusan saking girangnya dengan pembenaran ini, karena itu adalah gejala ‘keanehan’ permanen.

Maafkan aku…

Tuesday, May 27th, 2008

Bayi kucing, maafkan aku ya!
Pagi tadi aku kacau sekali.
Benci tau diriku ga berguna.
Malu…semoga kamu maafin aku.
Karena sebenarnya aku sangat peduli padamu.
Jangan pernah sangsikan!!!
Tadi itu aku cuma takut…
Tolong, jangan ditertawakan!!
Aku tau itu ketakutan yang sungguh tidak masuk akal.
Karena itulah seharian ini pikiranku tertuju padamu
Aku terus berfikir, apa sebenarnya yang aku takutkan?
Takut pada cakaranmu?
Malu…karena bahkan jarimupun belum kuat menyangga tubuhmu.
Kamu masih bayi. Mungil. Rapuh.
Dan sepertinya pandanganmu pun masih runyam.
Atau aku takut pada indukmu?
Iya…sepertinya itu masuk akal.
Aku takut disangka menculik bayinya.
Lalu nanti dia bisa marah dan mencakarku.
Tapi…sepertinya hal itu menjadi tidak masuk akal di detik
berikutnya.
Karena indukmu tak mungkin menelantarkanmu di trotoar.
Dia pasti akan menjagamu.menyusuimu.
Atau mungkin indukmu sudah terkena rabies??sudah gila??
Tapi aku tidak yakin apa rabies menyebabkan insting
keibuannya hilang?!

Bayi kucing…
Kamu mengingatkan aku pada pengalaman tempo hari.
pada bayi manusia di jembatan penyebrangan
itu.
Mungkin umurnya sama dengan kamu. Itungan hari.
Dia digeletakan di jembatan turunan itu.
Ya Allah…lindungilah dia…
Semoga dia tidak terinjak atau tertendang hingga menggelinding.
Semoga dia tidak jatuh melewati batangan pembatas jembatan.
Semoga dia diberi kesehatan, dan keselamatan.
Lagi-lagi aku merasa sangat berdosa.

Bayi kucing…
Aku sempat melihat bayi manusia itu menangis.
Kakanya, mungkin berumur 3 taunan, memberinya dot susu.
Dot susu yang sudah terkena asap knalpot metromini, bus,
mikrolet, ojek, bajay, yang hilir mudik.
Dot susu yang sebelumnya diletakkan di topi berisi uang-uang
recehan.
Dot susu yang puting karetnya dipegang oleh tangan dekil
kakaknya.
Dot susu yang entah kemana tutupnya.
Dot susu yang isinya cairan putih nyaris transparan.

Disana, dibawah jembatan, induk bayi manusia itu ada.
Mengamati anak-anaknya dari jauh.
Mengamati apakah topinya sudah penuh uang recehan atau belum.
Mengamati apakah ‘setting’ seperti itu sudah cukup
‘dramatis’ atau belum.
Aku rasa dia sudah terkena rabies stadium 4.
Sebenarnya aku tak tau apakah rabies ada levelnya.
Tapi rasanya pantas bila dia masuk golongan stadium 4.
Atau mungkin dia seorang seniman yang mencoba-coba pertunjukan jalanan?
yang sedang menyusun KONSEP terbaru dalam setting-an dramanya?

oh…bayi kucing…
siapalah sebenarnya aku ini..
yang bisanya hanya menilai orang, tanpa kasih solusi.

bayi kucing..
sepertinya yang harus kulakukan sekarang adalah belajar dengan sungguh-sungguh.
agar ujianku lancar.
dan kelak, bila aku lulus, aku bisa berguna bagi nusa dan bangsa.
dan juga bagimu.

bayi kucing…
semoga suatu hari nanti, ketika aku sudah bisa beri solusi, kamu tidak benci padaku.
dan menyalahkanku atas apa yang seharusnya kuperbuat tadi pagi.

bayi kucing….
aku berdoa untukmu seharian ini. hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang.

bayi kucing…
juga bayi manusia..
sekali lagi…maafkan aku!!

si ‘otak kecil’

Tuesday, May 13th, 2008

Sejak lama aku sudah berfikir tentang cita-cita. Lama sekali.
Sejak bocah aku sering ditanya tentang hal itu.
Aku pun sering bertanya hal itu pada bocah-bocah lain.
Temanku.
Perkara bertanya cita-cita menjadi semacam tradisi.
Basa-basi yang menjemukan ketika orang dewasa kehabisan
kata-kata.
Tapi, ketika aku dewasa, aku juga menanyakan hal yang sama
pada bocah-bocah.
Tapi bertanya itu hanya untuk mengetes ‘riak air’.
Riak air yang tak terprediksi. Kadang normal. Tapi kadang
mengejutkan.

Kebanyakan, bocah laki-laki berharap menjadi seperti
‘pahlawan’nya.
Umar, ponakanku menjawab, ‘aku pingin jadi sepidermen’.
Rayhan, ponakanku yang lain menjawab ‘aku ingin kaya mang
Otang’
Semua orang tau siapa itu spyderman. Tapi ga semua orang tau
siapa itu Mang Otang.
Umar bilang bisa jalan di dinding itu keren.
Rayhan bilang bisa nangkep belut pake tangan itu keren.
Umar bilang kalo jadi sepidermen bisa tiduran di jaring.
Rayhan bilang kalo jadi mang Otang bisa naik ke ujungnya
pohon kelapa.
Umar bilang sepidermen juga bisa naik pohon kelapa dan punya
senjata jaring ditangannya.
Rayhan bilang mang Otang punya golok di celananya dan setiap
hari jalan-jalan naik kebo.
Umar bilang, ya udah, aku pingin jadi mang Otang juga.

 Semua orang, normalnya, pasti punya cita-cita.
Cita-cita buat aku adalah keinginan, harapan, tujuan, dan
hasil akhir.
Tapi ketika pesimis dan frustasi akhirannya cita-cita Cuma sekedar
mimpi. Sekedar angan-angan, hanya lamunan, atau bahkan bualan.

Membual!
Aku suka kata itu. Untukku kesannya hebat. Seperti memiliki pikiran
yang lebih dibandingkan orang yang ‘dibuali’.
Seperti sekarang. Aku sedang membual. Tapi bukan maksudnya
aku mendeklarasikan diri bahwa aku hebat. Bukan sama sekali. Aku hanya
bernostalgia saja. Aku hanya menceritakan kisah yang mungkin semua orang pernah
mengalaminya. Mungkin juga semua orang memikirkannya. Mungkin juga semua orang
mengingatnya. Tapi tidak semua orang menuliskannya.

Sejak kecil, inginku banyak sekali.
Belum juga masuk TK aku sudah ingin jadi dokter. Seperti
suzan. Kesannya keren. Tapi aku penakut. Aku tak suka disuntik. Katanya jadi
dokter itu harus nyuntikin orang. Lebih baik aku tidak jadi dokter. Aku takut
ngilu ketika harus menyuntik pasien. Aku tak tega harus menusukkan benda tajam
itu ke pantat anak yang berontak tapi tak berdaya karena dipegangi suster.

 Agak besar sedikit aku terinspirasi pak Habibie. Saat itu
beliau jadi seperti ikon orang hebat. Aku ingin jadi seperti beliau. Jadi orang
hebat. Dan menurutku saat itu, menerbangkan pesawat jauh lebih hebat daripada
hanya sekedar membuat pesawat. jadilah aku ingin menjadi pilot. jadilah aku
berbeda dengan inspiratorku. Angan-anganku saat itu adalah membawa banyak
toples ketika bertugas dan memasukan awan-awan ke dalamnya untuk kujadikan
oleh-oleh. Seperti oleh-oleh yang dibawa kakaku pulang dari naik gunung. Dia
membawakan bunga eidelweiss setoples. Tapi katanya orang-orang, giginya pilot
ga boleh ada yang ompong. Dan saat itu gigi depanku goyang.

Aku patah hati. Aku patah hati dan membatin kenapa gigi susuku
harus goyang. Aku patah hati, kenapa dalam waktu dekat aku harus ompong. Aku
patah hati karna tidak bisa mengeruk banyak awan. Aku patah hati disaat
hasratku sedang menggebu-menggebunya untuk menjadi pilot.

Agak besaran lagi aku ingin punya toko kelontong. Toko
kelontong yang padat, sampai-sampai kita kesusahan untuk berjalan. Menyenangkan
bisa memiliki semua jenis barang. Menyenangkan bisa memanjat tumpukan kardus
untuk mencari barang yang diminta orang. Menyenangkan berkesan sibuk, lelah dan
bermandikan keringat. Menyenangkan tidak harus tidur siang karena sibuk. Menyenangkan
memiliki puluhan monopoli yang bisa diambil kapan saja. Menyenangkan tidak
perlu kebingungan kehilangan monopoli karena dibuang mama ketika aku sedang
malas membereskannya sehabis bermain.
Tapi katanya kalo punya toko harus selalu dijaga. Supaya semua
barang dagangan, termasuk monopolinya tidak dicuri orang. Jadi aku tidak bisa
bermain monopoli. Aku harus terus mengawasi barang daganganku. Aku tidak bisa
bermain monopoli di tokoku karena barang-barangku begitu menumpuk. Jadi tak
berguna aku punya begitu banyak monopoli.

Agak besaran lagi aku ingin jadi sopir bus. Mobilnya besar.
Kesannya garang. Temennya preman semua. Jadinya aman. Asik tiap hari kerjaannya
cuman jalan-jalan. Tau tempat-tempat pariwisata. Bisa mengatur kecepatan mobil sesuka
hati. Semua penumpang senang karena bisa tidur dengan tenang. Tidak ketakutan
karena aku mengendarai dengan tenang. Aku tidak akan ngebut. Tapi kalau di tanjakan
aku takutnya tidak bisa. Aku takutnya bisnya ngegelundung ke belakang.
Menghantam pohon, mobil, orang menyebrang, atau bahkan masuk jurang. Aku
takutnya orang-orang jadi masuk rumah sakit gara-gara aku. Aku takutnya
ditangkep polisi karena bikin orang celaka. Seperti pak Ibrahim, sopir pabrik
Ayahku yang masuk penjara karena bikin mati orang. Pak Ibrahim ngebut dan
nabrak orang yang sedang nyebrang. Terus gimana kalau aku dipenjara? Tidurnya
ama siapa? Kalau mau nonton Vicky si robot dimana?

Wah inginku terus berganti. Berganti terus.
Aku ga mungkin certain semua inginku.
Yang pasti, saat itu inginku banyak tapi nyaliku kecil.
Saat itu inginku banyak tapi akalku juga kecil.
Saat itu inginku memang banyak. Waktu masih kecil.

Arti nyaman

Monday, May 12th, 2008

Untukku kenyamanan itu sesuatu yang harus diperjuangkan.
Seperti orang haus yang mencari air.

Seperti orang lapar yang mencari nasi.

Seperti penyair yang mencari ilham.

Seperti orang kedinginan yang mencari selimut.

Nyaman itu… tak terungkapkan.

‘Bahagia sejati’, kalo boleh meminjam istilah temanku.

Dan aku tidak ingin menjadi pungguk yang hanya bisa menggilai bulan.

Karena bila hanya bisa menggilai, aku bisa jadi benar-benar gila.

Karena itu aku mencari.
maka aku bisa menemukan.

maka aku raih kenyamanan itu.

Aku tidak sedang melamun.

Saat ini aku baru terbangun dari tidur yang panjang.

Dan langsung menyusun strategi.
Lalu kemudian mulai beraksi.

Hei, kenapa kamu ikut bicara?
Jangan mengganggu.

Apa tidak tahu arti dari keningku yang berkerut?

Ya Tuhan…parah sekali orang ini.

Maaf, Bukannya antipati.
Maaf sekali.

Cuman omongannya terlalu tinggi untuk ukuran menginterupsi.
Lucu sekali….
Dia kira aku masih bermimpi.

Tuan…Aku memang pernah menjadi pemimpi.

Tapi sekarang susunan strategiku sudah jadi.

Lagipula aku tak bisa diiming-imingi.

Aku bertindak atas keinginan diri.

Ooo…Jadi itu inti dari pembicaraanmu yang kesana kemari…

Jadi..mana yang lebih kau banggakan?

Materi? titel? Atau perjalanan ke luar negeri?

Tapi lagi-lagi maaf..
itu hanyalah pertanyaan basa-basi
dariku.
dan jawaban apapun itu, aku tak peduli.
Karena aku tidak nyaman dengan semua itu.

Sudahlah..tidak perlu terlalu membanggakan diri.

Semuanya hanya sekedar keberuntungan yang terjadi padamu.

Dan kebanyakan orang belakangan ini.

Kau kira itu atas usahamu sendiri?

sombong sekali!
Masih ingat kan siapa yang harus kau puji?

Karena sungguh…buatku itu ga berarti.

Maka carilah orang yang belum bermimpi.

Atau yang belum menyusun strategi.

sekedar informasi, untukku nyaman adalah keadaan yang tidak memaksa.
Nyaman tidak menghasilkan dua kubu, yang beruntung dan yang merugi.
Nyaman adalah kegiatan yang berawal karena inisiatif.
Nyaman adalah ketika kita tulus melakukan sesuatu untuk diri sendiri, atau orang lain.
Nyaman adalah ketika kita atau orang lain itu senang dengan apa yang sudah dilakukan.
Nyaman adalah ketika segala hal diawali, dilakukan dan diakhiri dengan sebuah senyuman.

Untuk aku, nyaman itu segalanya.
Kesuksesan tertinggi yang bisa diraih manusia.
Dan aku, benar-benar sedang berjuang mencarinya.