Layak VS Siap

October 10th, 2008 by kikitigakali

Suatu malam, sudah cukup larut, aku mendapati sebuah nomer tak dikenal berstatus miscalled dalam layar hpku, dan sebuah sms dari nomer yang sama. Isinya begini “Asswrwb.punten ganggu,ini kiky bukan?”

Hmm…sejujurnya, memang ada 2 hal yang ganggu dari sms itu. Pertama, cara dia menyingkat salam, dan yang kedua cara dia menulis namaku. Namaku KIKI. Ka-I-Ka-I. bukan Ka-I-Ka-Ye.

Tapi sudahlah, kita lupakan itu untuk sementara ini, karna inti kisah ini bukan tentang ejaan salam atau ejaan namaku.

Rupanya si pemilik nomer tak dikenal itu adalah teman lamaku. Bisa dibilang dia adalah pujaan hatiku pada suatu masa yang sudah cukup lama. Masa dimana aku masih mengenakan seragam putih-abu.

Yang membuatku sedikit surprise adalah, beberapa jam sebelumnya aku sempat memikirkan dia beberapa saat. Karena saat itu aku sedang berkumpul dengan teman-teman SMAku yang tidak pernah bertemu hampir satu dasawarsa lamanya. Kami berkumpul dalam sebuah acara reuni, dimana semua kenangan masa lalu diungkit-ungkit sebagai bahan perbincangan. Kami terbahak mengenang kebodohan-kebodohan masa lalu. Kami menggeleng-gelengkan kepala mengingat betapa tidak masuk akalnya kelakuan-kelakuan kami di masa itu.

Dan..berkelebatlah bayangan dirinya dalam ingatanku, saat sahabatku mengatakan “ah..bakal banyak banget godaannya ki!itumah hampir semua orang pasti ngalamin.tiba-tiba para mantan pada minta balikanlah..kenalan baru yang neror dalam rangka pedekate-lah..Pokonya apapun itu, kamu harus teguh!jangan sampe nyesel belakangan. Karena nikah itu sisa hidup kita tarohannya.”.

Itu respon sahabatku yang sedang hamil 4 bulan, setelah aku ngadu tentang kelakuan para laki-laki di sekelilingku.

Dan tiba-tiba saja, setelah wejangan-wejangan itu terserap dipikiranku, idola di masa sma itu tiba-tiba menghubungiku dan menyatakan bahwa dia berniat untuk datang ke rumah dan melamarku.

Iya, aku memang sedang digoda oleh hal-hal seperti itu, terlebih ketika aku sudah membuat kesepakatan untuk menikah. Ajaibnya, godaan itu sama sekali tidak menggodaku. tidak membuat aku berfikir dua kali. Aku tidak tergiur..jujur..sama sekali tidak!

Aku mengatakan padanya bahwa aku sudah sepakat untuk menikah dengan seseorang. Dia terdiam..dan pada akhirnya dia meminta tolong aku untuk mencarikan jodoh untuknya. Kriterianya sederhana sekali “pokonya yang siap nikah”.

Aku berfikir cukup lama. Berfikir karena aku sedang mencoba untuk memahami apa yang dimaksudnya. Siap nikah?. Apakah maksudnya perempuan berumur diatas 17 tahun? atau di atas 20 tahun? Atau perempuan yang bisa memasak? atau perempuan yang bisa mengurus anak? Atau perempuan yang rajin beres-beres?

Aku bener-bener ga ngerti…

Aku mulai menganalisanya pada diriku. Umurku 26 tahun. Aku tidak bisa memasak. Aku biasa mengurus ponakanku walaupun tidak 100%. Aku tidak suka beres-beres. Dan aku siap menikah.

mmmmh..tapi aku punya kakak, yang berumur 28 tahun. Dia perempuan sekali. sangat keibuan. Pandai memasak. Hobinya beres-beres. Telaten mengurus anak. Tapi anehnya, dia tidak siap menikah.

Kenapa aku yang tidak bisa memasak lebih siap menikah dibanding kakaku yang jago memasak? kenapa aku yang tidak suka beres-beres menganggap diri siap untuk menikah? kenapa aku yang gayanya sesuka hati bisa melangkah sejauh ini?

Aku bingung..aku mulai melihat ini sebagai suatu kerancuan.

Lama aku termenung!dan akhirnya aku menemukan jawaban kenapa aku siap menikah.

jawabannya..Laki-laki yang berniat menikahiku, berhasil menghilangkan rasa takutku tentang menikah. Laki-laki yang berniat menikahiku membuatku yakin bahwa dia mampu melindungiku. Laki-laki yang berniat menikahiku, mampu meyakinkanku bahwa aku mampu untuk menikah.Laki-laki itu membuatku menjadi siap.

Lalu aku berkesimpulan bahwa kata layak tidak berarti siap, dan memutuskan secara sepihak bahwa perempuan-perempuan sejenis kakaku hanya masuk dalam kategori layak saja untuk menikah. Selayak apapun mereka, mereka tidak akan menjadi siap bila hati mereka tidak teryakinkan.

human created equal

July 7th, 2008 by kikitigakali

human created equal.
konon kisahnya begitu.
sampai kini bahkan sampai kiamat juga akan tetap begitu.
tapi bukan dimata manusia.
jangan mencoba mengingkarinya!
karna aku juga manusia kebanyakan seperti kalian.
aku tau apa yang kau pikirkan tentang ‘kesamaan’.
hanya kebohongan kalau kau berusaha berdalih.
cuma Allah dan segelintir manusia terpilih yang melihat semua manusia sama.

tapi kita juga tak perlu memandang perbedaan sebagai sebuah masalah.
anggaplah itu semacam warna.
seperti puluhan jumlah crayon di dalam kotaknya.
ketika disimpan begitu indah semarak, ketika digunakan begitu hidup dan harmonis.
bila crayon semua warnanya sama, pasti aneh sekali.
lukisan anak-anak menjadi sangat seragam dan absurd.
gunung berwarna coklat. sawah juga coklat. jalan juga coklat. rumah warnanya coklat. pohon juga coklat. matahari coklat. awan coklat.

dalam sekejap aku menjadi muak dengan warna coklat.
mungkin kamu juga merasakan hal yang sama.
saudara-saudaramu. orangtuamu. tetanggamu.
atau mungkin juga teman kamu merasa begitu.

sutradara babak pertama

June 26th, 2008 by kikitigakali

<!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>

hidup ini lucu
sekali.

Kadang kita
berfikir bahwa kita adalah sutradara dari hidup kita. Mengatur segalanya semau
kita. Berancang-ancang tentang hari depan. Menyenangkan bukan jadi sutradara? menyenangkan
karena punya kekuasaan absolut. Itulah kenapa aku gamau berhenti jadi
sutradara. Aku gamau berhenti mengkonsep hari depanku.

Dengan jadi
sutradara, aku bisa memilih siapa pemain yang berperan dalam ceritaku. Aku bisa
menentukan karakter seperti apa yang harus dijiwai oleh para pemain. Aku bisa
memutuskan pakaian atau aksesoris seperti apa yang pantas dikenakan oleh
mereka. Dan aku jugalah yang mengatur tempat dimana semua hal akan terjadi.

 

Banyak hal
yang ga berjalan sesuai konsepku. Konsep yang aku kira udah mateng, yang udah
bikin aku termenung setelah bermimpi di siang bolong itu hingga siang-siang
bolong di hari-hari berikutnya. Konsep yang membuatku terjaga sampai larut
malam dan malam-malam larut berikutnya.

Konsep yang
menyebabkan banyak hal melayang-layang dipikiranku. Hal yang menuntun kehadiran
imajinasi-imajinasi yang kemudian menginspirasikan terlahirnya sebuah skenario hidup
idealis yang sempurna.

 

Suatu pagi
aku menemukan diriku kelelahan menjadi sutradara karena skenario itu masih rapi
ditempatnya. Aku letakkan lagi beberapa hari lalu di tempatnya karena tidak ada
yang dapat memerankannya dengan sempurna. Aku tidak lebih dari seorang sutradara
gagal, yang tidak juga dapat menghasilkan mahakarya. Aku gagal.

 

Beberapa hari
lalu aku sempat menyerah dengan keadaan. Entah apa yang hinggap dipikiranku
kemarin itu. Beberapa hari yang berkesan, tapi juga meninggalkan lebam pekat dihatiku.
Berkesan karena sesuatu yang baru, dan lebam karena hasil dari penyesalan yang
dalam. Menyesal karena sudah sempat berkhianat dari konsep itu.

 

Banyak yang
kupertaruhkan dari idealismeku. Banyak dispensasi yang kutawarkan dari konsep
sempurnaku. Banyak yang aku lakukan dari hal yang tidak pernah kulakukan. Dimana
otakku yang dulu? Dimana otakku kemarin itu? Dan dimana otakku sekarang?
Sepertinya sudah berubah permanen.

bangun!!!!

June 26th, 2008 by kikitigakali

<!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>

Keinginan jarang
banget sesuai dengan kenyataan. Basi skali!!!!

Semua orang tau
itu. Bahkan hal itu berlaku buat orang-orang yang tampaknya sangat beruntung.
Karena apa yang tampak juga belum tentu seperti kenyataannya.

Aduuuh…kadang berfikir,
kenapa ya aku gabisa kaya orang lain yang bisa damai sejahtera karena bisa bertoleransi
sama kekurangan orang.

Hmmm..seakan-akan
aku sempurna saja.

Tapi bukannya kebanyakan
orang juga seringkali merasa dirinya sempurna?? Bahkan mungkin hampir semua orang begitu kayanya.
Ya seperti diriku ini contohnya. Ya ampuuuuun…malu sekali. Tapi emang begitulah
adanya. Maluuuu… sungguh…selalu mengklasifikasikan orang diluar sadar. Siapa
aku?!!!

Sampai suatu hari
aku janji mau berubah. Pengen berubah jadi kaya orang-orang yang sudah memahami
sebuah kalimat keramat yaitu ’nggak ada manusia sempurna’.

Hmmmm…oke..karena
kalimat keramat itu diamini jutaan orang dari masa ke masa, berarti itu adalah
kesimpulan yang valid. Nilai reliabilitasnya tinggi. Ooo…untuk hal-hal kaya
gini toh istilah statistik itu bisa diterapin. Akhirnya aku mengerti!

Tapi…aku punya
hipotesa tambahan, bahwa diluar sana ada orang yang hampir mendekati sempurna.

Entah gimana,
tapi aku yakin. Yakin sekali.

Aku kirain,
setelah aku ngerubah paradigma itu, semuanya jadi berubah. Ada perbedaanlah
seenggaknya.

Ternyata tidak
semudah menjentikkan jari. Prosesnya bakal panjang kayanya.

Oh Tuhan…semoga
aku nggak frustasi dan kembali ke jalan yang berlubang itu. Hmm…sulit juga
mencoba memahami. Sulit banget mencoba buat memaklumi. Sulit sekali mencoba
buat menerima. Yang lebih sulit lagi adalah menjalankannya.

Bikin gila!!

Kenyataannya…masih
banyak orang diluar sana yang ingin merealisasikan keinginannya. Membuat
keinginannya jadi nyata. Dan menuntut siapapun untuk jadi seperti apa dan siapa
yang diinginkannya.

Hahahaha…ingin
rasanya tertawa terbahak. Ingin rasanya mencolek dan membuat orang-orang
seperti itu terjaga dari mimpi indahnya yang panjang.

Ayo
bangun!!!

kamu itu aku

June 25th, 2008 by kikitigakali

&lt;!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:&quot;&quot;;
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–&gt;

Mustinya ini ga penting buat dipikirin.

Tapi nongol terus. Minta diperhatiin.

Pikiran ini ganggu banget!

 

Asal kamu tau..Aku ga bilang aku tertarik.

Karena di awal aku ngerasa ga ada yang menarik.

Tanganku ga beku.

Mulutku ga kaku.

Hatiku juga ga meleleh.

Mungkin karna kamu bukan tipe impianku.

Tipe impian yang sebenernya Cuma ada di negri dongeng.

Walaupun..bolehlah dapet nilai tujuh dari 10.

Kamu oke dari permukaan. Tapi tetep aku ga tertarik.

 

Aku ga tertarik. Tapi aku kepikiran.

Kepikiran karena..harusnya kamu yang tertarik.

Harusnya kamu yang kepikiran aku.

Aku memang sombong. Dan orang harus maklum sama sombongku.

Karena aku ga sembarang sombong.

Aku sombong karena ada yang bisa aku sombongin.

 

Mungkin itu juga yang kamu pikirin.

Kamu pikirin apa yang aku pikirin.

Kamu pengenin apa yang aku pengenin.

Kamu sombongin apa yang aku sombongin.

Kamu terbiasa dengan apa yang aku biasa dapetin juga.

 

Sombong sekali kita.

Buruknya jadi mahluk sombong.

Aku ga suka!ga suka orang sombong.

Gasuka kamu. Gasuka aku.

Aku berenti jadi orang sombong.

Aku udah sembarangan ngomong.

Karena ternyata ga ada yang bisa aku sombongin.

Buktinya ada yang bisa nyamain aku.

Untuk kali ini, baru kamu orangnya.

 

kamu itu…aku!!

1/3, 23 dan kesempurnaan sejati

June 24th, 2008 by kikitigakali

Ga tau gimana awalnya, yang pasti…akhirnya aku dipercaya sahabat-sahabat SMPku untuk ngedengerin keluhan, curhatan, atau cuman sekedar tempat berbagi rahasia mereka. “Ngga ada hidup yang sempurna!!” atau “Hidup tuh kaya roda. Terus muter!!ga mungkin seneng terus!”.

Sounds Klise, Right?!! Kata itu ibarat keyword yang gatau udah berapa ratus kali keluar dari mulutku sebagai tanggapan awal dari keluhan mereka.

Bisa dibilang kata-kata itu sebenernya cuma basa-basi. karena ga ada kata sakti laen yang kepikiran saat itu. Toh aku juga ga tau gimana rasanya berada diposisi mereka. Aku gatau rasanya dipukulin ayah. Aku gatau rasanya kabur karena diusir orang tua. Aku ga pernah ngalamin rasanya gapunya uang sama sekali sampe-sampe ga masuk sekolah karena ga mampu bayar angkot. Aku gatau gimana repotnya bagi waktu antara belajar, beresin rumah, ngurus adik plus bikin gorengan buat dijual di koperasi sekolah. AKU GATAU!!!! aku ga pernah ngalamin itu semua.

tapi anehnya mereka selalu nurutin nasehat dari orang awam yang so tau ini. Dan selalu berakhir dengan ucapan terima kasih karena menurut mereka anjuranku manjur.

Aku terlahir sebagai anak bungsu yang punya banyak kakak.Keluarga yang hangat dan sangat besar. Kami bukan keluarga kaya tapi juga ga kekurangan. Semuanya serba cukup!!

Ayahku orang yang toleran, demokratis sekaligus disiplin dalam waktu yang bersamaan. Ibuku wanita karir yang sangat perhatian dan pandai membagi waktunya dengan keluarga. Mereka berdua bekerja, tapi kami, anak-anaknya, tidak terbengkalai. Semuanya berjalan lancar. Sangat lancar. Hidupku sempurna! Sampai akhirnya aku dapat pukulan telak ketika awal kelas 1 SMA. Ayahku meninggal. Komplikasi jantung dan diabetes. Dunia berubah!! Di satu sisi keluargaku semakin solid. Di sisi lain aku kehilangan 1/3 jiwaku.

Kali pertama aku mengatakan “Ngga ada hidup yang sempurna dan hidup memang kaya roda” pada diri sendiri. Ironis.. tapi mama ga pernah lelah nyemangatin kami tanpa mempedulikan kehampaannya sendiri. Ternyata..dunia ga banyak berubah!!

Aku mulai bergaul dengan komunitas baru yang cukup bisa “menghidupkan” aku lagi. Lagi-lagi aku berperan sebagai konselor.. Dan masalah mereka lebih ribet lagi. Aku mulai bersahabat dengan ungkapan “Selalu ada langit di atas langit”. Kesedihan aku, keterpurukan aku, kekecewaan aku ditinggal ayah ternyata ga ada apa-apanya dibanding rumitnya masalah orang lain. Dan itu pertama kalinya aku mulai bisa bersyukur lagi. Aku suka berteman, mencari temen baru, berkomunitas dan rasa empatiku juga tinggi banget. mungkin turunan dari orang tua.

Ga sulit buat aku cari teman baru. Baru awal masuk kuliah aku bertemu dengan sekelompok orang yang menyenangkan. Yang hidupnya hanya buat berfoya-foya. Bener-bener ga punya beban pikiran apa-apa. Jarang kuliah, Masalahnya sekitar pacar atau gebetan. Semuanya begitu mudah dipecahkan. Hidup mereka begitu sempurna walau tampak tak berkualitas! Ga ada tantangan yang berarti yang bakal bikin kita lebih baik dari sebelumnya. Bosen juga lama-lama. Aku mulai terbawa pergaulan. Santai jadi motto kami.Beruntung punya mama bukan tipe orang tua yang menuntut ini itu dan mentarget anaknya harus lulus tepat waktu. Tapi justru itu yang bikin aku mikir dan malu. Aku mati-matian berusaha ngejar semua ketinggalan di kampus. Akhirnya aku lulus tepat waktu.

Ada kebanggaan yang ga bisa aku jelasin ketika suatu hari di suatu acara mama bilang ke temen-temennya “Ini anak saya yang bungsu. Baru wisuda kemaren”. Mungkin itu ga dahsyat buat orang lain. Tapi buat aku itu kepuasan yang luar biasa dan mungkin Cuma satu-satunya kebahagiaan yang bisa aku persembahkan buat mama.

Bareng temen-temen yang baru lulus, kami buka advertising kecil-kecilan. Hasilnya lumayan. Tapi terus aku resign karena pengen ngurus mama. Saat itu, akhir 2005 mama kelihatan kurang sehat. Berat badannya turun drastis dari 60 jadi 42 kg. Trauma takut diabetes kaya ayah. Tapi mama yang anti dokter ga mau periksa dan Beliau tetep pergi kerja seperti biasa.

Belum genap 3 bulan yang lalu, tepatnya 14 Februari 2006, di hari kasih sayang itu, Tuhan menunjukkan rasa cinta-Nya buat Mama. Mama dipanggil-Nya setelah kurang lebih 1 bulan dokter memvonisnya leukimia. Akhirnya mama lepas dari rasa sakit, yang saking sakitnya, ngebayangin gimana rasanyapun aku ga sanggup.

Sekarang jiwaku tinggal 1/3.

Dan Mama..Wanita yang tangguh itu..kini menyemangatiku dari surga, bersama ayah.

Jangan Tanya gimana terpuruknya aku.. Si bungsu yang udah sarjana ini ternyata baru bener-bener ngerasa “hidup yang sesungguhnya” di usia yang ke 23. Usia yang udah ga muda tapi belum juga dewasa. Aku harus tegar. Aku harus mandiri. Aku ga mau jadi beban orang, walaupun itu kakak-kakakku sendiri. Sekarang aku menyibukan diri dengan melakukan hobi-hobi lamaku. Mendesain baju untuk aku sendiri dan kaka. Kami punya selera yang hampir sama soal fashion. Walaupun ada kalanya bertolak belakang. Suatu hari nanti aku ingin memproduksi baju dan punya toko sendiri.

Kesibukanku yang lain adalah mendengarkan curhatan temen-temen plus ngasih masukan, like always!! Ga ada yang istimewa memang..tapi buatku, lagi-lagi, itu sangat berarti. Seakan-akan aku menjadi most wanted! begitu dibutuhkan dan dihargai. Merasa special. Aku ada artinya buat orang!! Kata-kataku didenger!!! Tanpa aku sadari, aku udah ngebantu meringankan pikiran mereka. At least joke-ku bisa sedikit ngehibur mereka. Aku seperti lupa akan segala kesedihanku tanpa aku harus “berubah” menjadi orang lain. Dengan gitu aku ngerasa ga punya masalah.

Sepertinya aku punya kata-kata lain, yang walaupun maksudnya sama, tapi kalo dirangkainya beda, ada kesan optimis yang aku rasa, yaitu “Memang ga ada hidup yang sempurna, tapi Pasti ada satu sisi kehidupan kita yang kita rasa sempurna”. Dan aku udah nemu sisi kehidupan mana yang bikin aku ngerasa sempurna. Yaitu ketika omonganku didenger, kata-kataku berpengaruh (in a good way!), dan orang ngerasa terbantu oleh itu semua. Itu bener-bener kesempurnaan sejati!!

for Bun…from me…

June 11th, 2008 by kikitigakali

Bun…
Trimakasih banyak ya…

Bincang-bincang singkat dan santai kmaren itu berkesan dalem banget buatku.
Aku baru tau kalo ada orang yang segitunya memaknai kata bersyukur.
I’m proud of you!!

Itu hal yang simple, tapi ga terbersit sedikitpun sama aku.
Walaupun aku udah tau dari dulu kalo semakin banyak kita bersyukur, maka nikmat akan makin berlimpah.
Dan aku juga tau dari dulu, kalo kita banyak mengeluh, yang kita dapet ga lebih dari berbagai kesulitan-kesulitan lagi.
Tapi aku ga memaknai hal itu segitunya…

Taugasih Bun..selama ini aku merasa cukup dengan mengucap Alhamdulillah atas semua berkah yang aku dapet, atas semua kemudahan yang Allah kasih.
Dangkal banget aku ini!!
Seketika, aku ngerasa jadi mahluk paling sombong kalo nginget-nginget kelakuanku sehari-hari. Aku ngerasa sombong  karena selalu bangun siang dan melewatkan udara pagi yang seger, seakan-akan kesegaran itu bisa aku dapetin kapan aja aku mau. Padahal ampir tiap siang aku ngeluh karena udara yang sangat ga nyaman.
Aku sangat sombong karena ga peduli dengan proses munculnya matahari, padahal akhir-akhir ini, tiap malem, aku selalu takut ngelewatin malem.
Aku takut karena hari berganti cepet banget. Aku takut karena…..karena hal yang ga bisa aku jelasin..karena…aku juga sebenernya gatau kenapa!
Aku ngerasa sombong, karena menyia-nyiakan energi mudaku ini dengan banyak berleha-leha, seakan aku bakal punya energi yang sama sampe kapan pun. Seakan aku bakal idup lama banget.
Ya ampuuuun….aku dangkal sekali!!!!!   

Bun…terim kasih ya…udah jadi kaka yang baik. Udah nyiapin jus-jus sehat, seger dan enak buatku tiap hari. udah ngerelain selimut kamu buat aku waktu kemaren aku menggigil. Udah nyiapin menu makanku tiap hari. Udah kasih masukan dan ide-ide waktu kemaren aku stuck.
Lucunya, itu adalah cara kamu bersyukur atas semua kesempatan yang Allah kasih ke kamu, ketika kamu masih bisa bantu orang-orang di sekeliling kamu.
Dibilang ‘lucu’ karena itu adalah hal yang sangat mudah buat dilakuin. Mungkin aku juga bakal lakuin hal yang sama. Tapi selama ini aku ga memaknai itu sebagai rasa bersyukur.
Bun…aku bakal niru itu!!mudah-mudahan aku ga lupa ya…

Untuk kamu tau Bun… Walopun kita sering berantem, walopun aku seriiiing banget ngebantah kata-kata kamu, itu sama sekali ga berarti aku ga sayang kamu…
Itu hanya karena kita hanya sama-sama perempuan yang lahir di hari kamis di bulan september!!!!hahaha…KEPALA BATU!!!
Hehe!!!

that’s what we are!!

Bun…i love u..

OoowH soooo much!!

jangan aneh!!

May 30th, 2008 by kikitigakali

Apa sih yang nggak aneh didunia ini?
tampaknya saat ini semuaaaaaaaaaaaaaa aneh!
termasuk kita, ato aku?? anggap aja kita ya…karena pasti ada beberapa orang yang serupa ama aku.
Kita aneh karena cinta sama orang yang anehnya serupa ama kita.

Pemahaman orang tentang cinta juga aneh.
Karena baru bisa dibilang ’cinta’, kalo kita bisa maafin kesalahan dia,
bisa ngertiin apa maunya, juga kalo kita udah nangis gara-gara dia tapi kita
tetep masih peduli ama dia, masih setia nunggu padahal dianya dah ga
peduli, masih bisa senyum waktu dia bilang ’aku sekarang cinta sama
xxxxxx’, which is….bukan kita!

Tapi yang lebih aneh itu kitanya lagi, karena kita nimpalin ‘Aku ikut
bahagia buat kamu’.

Halllaaaah!!!
Capenya jadi orang aneh!

Hidup udah cukup aneh tauuu..dengan hanya nyediain kebahagiaan buat orang-orang yang
nangis, tersakiti, yang udah mencari dan yang udah mencoba.
(Tau kenapa? Karena Cuma orang-orang yang udah berjuang dan menderita
kaya gitulah yang bisa ngehargain pentingnya arti orang yang pernah
nyentuh kehidupan mereka.) Dan anehnya lagi, kalo sampe pada waktunya
kita harus lepasin orang aneh yang kita cintai, katanya itu bukan
akhir, tapi awal kehidupan baru.

jadi gausahlah ditambah2 dengan keanehan diri kita.
bukankah hidup itu semacam seleksi alam?
Kalau dia ga bertahan, berarti udah terseleksi dengan sendirinya oleh alam, a.k.a dia ga worthed buat kita.

so…tersenyumlah, karna disana, suatu hari, cinta yang beneran tulus dan ga aneh itu ada, menunggu, atau mungkin malah nyamperin. pokonya intinya sih cinta itu bakalan dateng, dan bikin kita yang aneh jadi ga aneh lagi.
tapi jangan senyam-senyum keterusan saking girangnya dengan pembenaran ini, karena itu adalah gejala ‘keanehan’ permanen.

Maafkan aku…

May 27th, 2008 by kikitigakali

Bayi kucing, maafkan aku ya!
Pagi tadi aku kacau sekali.
Benci tau diriku ga berguna.
Malu…semoga kamu maafin aku.
Karena sebenarnya aku sangat peduli padamu.
Jangan pernah sangsikan!!!
Tadi itu aku cuma takut…
Tolong, jangan ditertawakan!!
Aku tau itu ketakutan yang sungguh tidak masuk akal.
Karena itulah seharian ini pikiranku tertuju padamu
Aku terus berfikir, apa sebenarnya yang aku takutkan?
Takut pada cakaranmu?
Malu…karena bahkan jarimupun belum kuat menyangga tubuhmu.
Kamu masih bayi. Mungil. Rapuh.
Dan sepertinya pandanganmu pun masih runyam.
Atau aku takut pada indukmu?
Iya…sepertinya itu masuk akal.
Aku takut disangka menculik bayinya.
Lalu nanti dia bisa marah dan mencakarku.
Tapi…sepertinya hal itu menjadi tidak masuk akal di detik
berikutnya.
Karena indukmu tak mungkin menelantarkanmu di trotoar.
Dia pasti akan menjagamu.menyusuimu.
Atau mungkin indukmu sudah terkena rabies??sudah gila??
Tapi aku tidak yakin apa rabies menyebabkan insting
keibuannya hilang?!

Bayi kucing…
Kamu mengingatkan aku pada pengalaman tempo hari.
pada bayi manusia di jembatan penyebrangan
itu.
Mungkin umurnya sama dengan kamu. Itungan hari.
Dia digeletakan di jembatan turunan itu.
Ya Allah…lindungilah dia…
Semoga dia tidak terinjak atau tertendang hingga menggelinding.
Semoga dia tidak jatuh melewati batangan pembatas jembatan.
Semoga dia diberi kesehatan, dan keselamatan.
Lagi-lagi aku merasa sangat berdosa.

Bayi kucing…
Aku sempat melihat bayi manusia itu menangis.
Kakanya, mungkin berumur 3 taunan, memberinya dot susu.
Dot susu yang sudah terkena asap knalpot metromini, bus,
mikrolet, ojek, bajay, yang hilir mudik.
Dot susu yang sebelumnya diletakkan di topi berisi uang-uang
recehan.
Dot susu yang puting karetnya dipegang oleh tangan dekil
kakaknya.
Dot susu yang entah kemana tutupnya.
Dot susu yang isinya cairan putih nyaris transparan.

Disana, dibawah jembatan, induk bayi manusia itu ada.
Mengamati anak-anaknya dari jauh.
Mengamati apakah topinya sudah penuh uang recehan atau belum.
Mengamati apakah ‘setting’ seperti itu sudah cukup
‘dramatis’ atau belum.
Aku rasa dia sudah terkena rabies stadium 4.
Sebenarnya aku tak tau apakah rabies ada levelnya.
Tapi rasanya pantas bila dia masuk golongan stadium 4.
Atau mungkin dia seorang seniman yang mencoba-coba pertunjukan jalanan?
yang sedang menyusun KONSEP terbaru dalam setting-an dramanya?

oh…bayi kucing…
siapalah sebenarnya aku ini..
yang bisanya hanya menilai orang, tanpa kasih solusi.

bayi kucing..
sepertinya yang harus kulakukan sekarang adalah belajar dengan sungguh-sungguh.
agar ujianku lancar.
dan kelak, bila aku lulus, aku bisa berguna bagi nusa dan bangsa.
dan juga bagimu.

bayi kucing…
semoga suatu hari nanti, ketika aku sudah bisa beri solusi, kamu tidak benci padaku.
dan menyalahkanku atas apa yang seharusnya kuperbuat tadi pagi.

bayi kucing….
aku berdoa untukmu seharian ini. hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang.

bayi kucing…
juga bayi manusia..
sekali lagi…maafkan aku!!

si ‘otak kecil’

May 13th, 2008 by kikitigakali

Sejak lama aku sudah berfikir tentang cita-cita. Lama sekali.
Sejak bocah aku sering ditanya tentang hal itu.
Aku pun sering bertanya hal itu pada bocah-bocah lain.
Temanku.
Perkara bertanya cita-cita menjadi semacam tradisi.
Basa-basi yang menjemukan ketika orang dewasa kehabisan
kata-kata.
Tapi, ketika aku dewasa, aku juga menanyakan hal yang sama
pada bocah-bocah.
Tapi bertanya itu hanya untuk mengetes ‘riak air’.
Riak air yang tak terprediksi. Kadang normal. Tapi kadang
mengejutkan.

Kebanyakan, bocah laki-laki berharap menjadi seperti
‘pahlawan’nya.
Umar, ponakanku menjawab, ‘aku pingin jadi sepidermen’.
Rayhan, ponakanku yang lain menjawab ‘aku ingin kaya mang
Otang’
Semua orang tau siapa itu spyderman. Tapi ga semua orang tau
siapa itu Mang Otang.
Umar bilang bisa jalan di dinding itu keren.
Rayhan bilang bisa nangkep belut pake tangan itu keren.
Umar bilang kalo jadi sepidermen bisa tiduran di jaring.
Rayhan bilang kalo jadi mang Otang bisa naik ke ujungnya
pohon kelapa.
Umar bilang sepidermen juga bisa naik pohon kelapa dan punya
senjata jaring ditangannya.
Rayhan bilang mang Otang punya golok di celananya dan setiap
hari jalan-jalan naik kebo.
Umar bilang, ya udah, aku pingin jadi mang Otang juga.

 Semua orang, normalnya, pasti punya cita-cita.
Cita-cita buat aku adalah keinginan, harapan, tujuan, dan
hasil akhir.
Tapi ketika pesimis dan frustasi akhirannya cita-cita Cuma sekedar
mimpi. Sekedar angan-angan, hanya lamunan, atau bahkan bualan.

Membual!
Aku suka kata itu. Untukku kesannya hebat. Seperti memiliki pikiran
yang lebih dibandingkan orang yang ‘dibuali’.
Seperti sekarang. Aku sedang membual. Tapi bukan maksudnya
aku mendeklarasikan diri bahwa aku hebat. Bukan sama sekali. Aku hanya
bernostalgia saja. Aku hanya menceritakan kisah yang mungkin semua orang pernah
mengalaminya. Mungkin juga semua orang memikirkannya. Mungkin juga semua orang
mengingatnya. Tapi tidak semua orang menuliskannya.

Sejak kecil, inginku banyak sekali.
Belum juga masuk TK aku sudah ingin jadi dokter. Seperti
suzan. Kesannya keren. Tapi aku penakut. Aku tak suka disuntik. Katanya jadi
dokter itu harus nyuntikin orang. Lebih baik aku tidak jadi dokter. Aku takut
ngilu ketika harus menyuntik pasien. Aku tak tega harus menusukkan benda tajam
itu ke pantat anak yang berontak tapi tak berdaya karena dipegangi suster.

 Agak besar sedikit aku terinspirasi pak Habibie. Saat itu
beliau jadi seperti ikon orang hebat. Aku ingin jadi seperti beliau. Jadi orang
hebat. Dan menurutku saat itu, menerbangkan pesawat jauh lebih hebat daripada
hanya sekedar membuat pesawat. jadilah aku ingin menjadi pilot. jadilah aku
berbeda dengan inspiratorku. Angan-anganku saat itu adalah membawa banyak
toples ketika bertugas dan memasukan awan-awan ke dalamnya untuk kujadikan
oleh-oleh. Seperti oleh-oleh yang dibawa kakaku pulang dari naik gunung. Dia
membawakan bunga eidelweiss setoples. Tapi katanya orang-orang, giginya pilot
ga boleh ada yang ompong. Dan saat itu gigi depanku goyang.

Aku patah hati. Aku patah hati dan membatin kenapa gigi susuku
harus goyang. Aku patah hati, kenapa dalam waktu dekat aku harus ompong. Aku
patah hati karna tidak bisa mengeruk banyak awan. Aku patah hati disaat
hasratku sedang menggebu-menggebunya untuk menjadi pilot.

Agak besaran lagi aku ingin punya toko kelontong. Toko
kelontong yang padat, sampai-sampai kita kesusahan untuk berjalan. Menyenangkan
bisa memiliki semua jenis barang. Menyenangkan bisa memanjat tumpukan kardus
untuk mencari barang yang diminta orang. Menyenangkan berkesan sibuk, lelah dan
bermandikan keringat. Menyenangkan tidak harus tidur siang karena sibuk. Menyenangkan
memiliki puluhan monopoli yang bisa diambil kapan saja. Menyenangkan tidak
perlu kebingungan kehilangan monopoli karena dibuang mama ketika aku sedang
malas membereskannya sehabis bermain.
Tapi katanya kalo punya toko harus selalu dijaga. Supaya semua
barang dagangan, termasuk monopolinya tidak dicuri orang. Jadi aku tidak bisa
bermain monopoli. Aku harus terus mengawasi barang daganganku. Aku tidak bisa
bermain monopoli di tokoku karena barang-barangku begitu menumpuk. Jadi tak
berguna aku punya begitu banyak monopoli.

Agak besaran lagi aku ingin jadi sopir bus. Mobilnya besar.
Kesannya garang. Temennya preman semua. Jadinya aman. Asik tiap hari kerjaannya
cuman jalan-jalan. Tau tempat-tempat pariwisata. Bisa mengatur kecepatan mobil sesuka
hati. Semua penumpang senang karena bisa tidur dengan tenang. Tidak ketakutan
karena aku mengendarai dengan tenang. Aku tidak akan ngebut. Tapi kalau di tanjakan
aku takutnya tidak bisa. Aku takutnya bisnya ngegelundung ke belakang.
Menghantam pohon, mobil, orang menyebrang, atau bahkan masuk jurang. Aku
takutnya orang-orang jadi masuk rumah sakit gara-gara aku. Aku takutnya
ditangkep polisi karena bikin orang celaka. Seperti pak Ibrahim, sopir pabrik
Ayahku yang masuk penjara karena bikin mati orang. Pak Ibrahim ngebut dan
nabrak orang yang sedang nyebrang. Terus gimana kalau aku dipenjara? Tidurnya
ama siapa? Kalau mau nonton Vicky si robot dimana?

Wah inginku terus berganti. Berganti terus.
Aku ga mungkin certain semua inginku.
Yang pasti, saat itu inginku banyak tapi nyaliku kecil.
Saat itu inginku banyak tapi akalku juga kecil.
Saat itu inginku memang banyak. Waktu masih kecil.